Jumat, 14 November 2008

biografi sunda

Asép Sunandar Sunarya

Asép Sunandar Sunarya (Bandung, 3 Séptémber 1955) nyaéta salasahiji dalang fénomenal dina wayang golék.
Biografi

Atikan
1962 – 1968 : SD Cangkring
1968 – 1971 : SMP Pasigaran
1972 – 1973 : Atikan Pedalangan di Radio Republik Indonésia (RRI) Bandung
Ngadalang

Élmu padalangan bisa kacangking sacara turun tumurun sarta otodidak. Référénsi ngeunaan pewayangan dicokot ti sagala rupa asal di antarana sastra lisan, buku-buku, sarta pergaulan jeung sagala rupa golongan, ku kituna dina saban pagelaran sok adaptasi jeung apresiasi balaréa sarta dina pidanganana sok luyu jeung kamekaran jaman.
Kreasi sarta inovasi anu junun dimekarkeun nyaéta mangrupa carita anu leuwih metot sarta ngahibur. Nyieun wayang-wayang téhnik (buta-buta), anu bisa utah mie sarta getih, sirah peupeus, buta nu panonna bisa ngiceup, jeung sirah anu bisa digerakkeunn, nyieun panah katut busurna, gada anu mimitina ngan dijieun tina kulit ipis dikembangkeun jadi gada anu dijieun tina kai jeung busa.

Yasa jeung karya
1984 – 2001 : Déwan Pangadeg Yayasan Pedalangan Giri Harja.
1975 – kiwari : Dina hiji warsih saeutikna 120 kali pintonan, komo ti 1976 tepi ka 1987 mah kungsi ngeusian pintonan wayang golek salila genep bulan patuturut.
1978 : Jawara Pinilih I Binojakrama sa-Jawa Kulon.
1982 : Jawara Pinilih I Binojakrama sa-Jawa Kulon.
1985 : Jawara Umum Binojakrama sa-Jawa Kulon.
1989 : Datangna ka Amérika dina raraga pintonan wayang golek.
1992 : Miluan Festival Wayang (Teater Boneka) di Perancis.
1993 : Jadi Dosen Cahara di Institut International de La Marionnette di Charleville Perancis.
1994 : Ubeng Éropa dina raraga pementasan wayang golek.
1994 – 2004 : Ngeusian Program Acara ASEP SHOW di Télévisi Atikan Indonésia (TPI) kalawan inohongna si Cepot saban bulan Ramadan.
2001 : Datangna ka Inggris dina raraga pidangan wayang golek di 12 dayeuh babarengan jeung Asian Music Circuit (AMC).
2005 : Ngeusian Program Acara Pementasan Wayang Golek saban peuting minggu di Télévisi Atikan Indonésia (TPI) saloba 36 épisodeu.

Sajaba ti jadi dalang, geus meunang pangajén ti sawatara instansi sarta pangajén anu pangluhurna dibikeun ku Présidén Soeharto nyaéta Tanda Cahara Satyalencana Kabudayaan.

biografi idol

Sony Dwi Kuncoro, Pebulutangkis Harapan Indonesia



saat meraih hadiah di Japan Open SS 2008

Sony Dwi Kuncoro Pemain Bulu Tangkis dari Indonesia kelahiran 7 Juli 1984, Surabaya, Jawa Timur adalah putra dari pasangan Mochammad Summadji dan Asmiati. Ketika masih muda Sony bergabung dengan klub badminton Suryanaga Surabaya, hobi Sony adalah dibidang otomotif dan travelling.


Sony berhasil merebut medali perunggu di bagian tunggal putra mengalahkan Boonsak Ponsana dari Thailand pada Olimpiade Athena 2004 dengan skor 15-11 dan 17-16. Selain itu ia juga menjadi runner up pada Kejuaraan Dunia IBF (International Badminton Federation) tahun 2007 setelah kalah melawan Lin Dan di Stadium Putra, Bukit Jalil, Malaysia. Sony juga meraih kemenangan pada Chinese Taipei Open setelah mengalahkan Taufik Hidayat di putaran final dengan skor 18-21, 21-6, 21-13. Selain itu ia juga dua kali meraih mendali emas untuk single putra pada SEA Games tahun 2003, 2005 dan pada SEA Games 2007 ia membantu tim Indonesia memenangkan mendali emas pada pertandingan ganda putra.


Semenjak kecil, Sony dibina untuk menjadi seorang atlet bulu tangkis. Ia rela melepaskan bangku pendidikan saat ia beranjak SMP (Sekolah Menengah Utama). Lebih dari setengah hidupnya ia dedikasikan untuk olahraga tepok bulu tersebut. Menurutnya, bulu tangkis merupakan hidupnya. Impian Sony untuk masuk PELATNAS (Pelatihan Nasional) di Jalan Damai, Cipayung pada tahun 2003 bersamaan dengan masuknya pebulu tangkis andalan Indonesia, Maria Kristin pun tercapai setelah bertahun-tahun berlatih di Suryanaga, Surabaya.


Saat pertama kali berhubungan di dunia pelatihan khusus atlet nasional, PELATNAS, Sony langsung dibina oleh seorang atlet senior, yaitu Marleve Mainaky. Marleve mengatakan, kunci keberhasilan Sony adalah karena ia berani dalam menyerang dengan sesekali melalui spekulasi smes silang.


Sejak keberadaannya di PELATNAS seiring pula dengan melesatnya perkembangan permainannya, Maleve yakin Sony dapat menggantikan Taufik Hidayat sebagai juara dunia pada Olimpiade 2008. Akan tetapi, usaha yang telah Sony lakukan demi meraih gelar juara dunia di Olimpiade 2008 (Agustus 2008) ternyata bukanlah suatu titik keemasannya karena ia harus pulang dengan kekalahan dari Lee Chong Wee pada babak perdelapan final. Kekalahannya pada Olimpiade Beijing langsung dibalasnya pada Japan Open Super Series 2008. Pada babak final, ia kembali ditantang Lee Chong Wee. Akan tetapi, kemenangan berada pada pihak Sony Dwi Kuncoro. Ia meraih gelar Super Series keduanya di tahun 2008 setelah meraih gelar Indonesia Open Super Series, Juni 2008. kemenangan yang beruntun terjadi lagi pada turnamen China Master Super Series, China (September 2008) setelah mempermalukan Xhen Jin sebagai tuan rumah dari negeri tirai bamboo tersebut. Pujian serta kebanggaan Indonesia memuncak saat itu. Tak henti-hentinya media massa dan elektronik menyebut-nyebut namanya sebagai tunggal putra pertama yang berhasil merebut gelar super series tiga kali berturut-turut dalam satu tahun (22 Juni, 24, dan 29 September 2008).


Setelah berhasil meraih gelar yang bertubi-tubi, Sony tidak mudah berbangga dan berpuas diri. Hal itu dikemukakan oleh ayah angkatnya yang tinggal tepat di seberang rumah Sony yang berdampingan dengan PELATNAS, Cipayung. Rumah yang ia dirikan awal 2008 itu telah menjadi kediaman tetapnya di Jakarta selain kampung halamannya di Surabaya. Rumah dengan gaya milimalis berwarna abu-abu ungu menjadi pusat perhatian penggemarnya.


Kehidupan Sony setelah ia sukses menjadi atlet bulu tangkis tidak berubah. Ia tetap menjadi Sony yang mandiri, ramah, dan tetap santun kepada orangtua. Kekayaan dan prestasi yang melimpah tidak dapat membuat Sony menjadi anak yang sombong. Hal ini dipaparkan oleh seorang teman akrabnya bernama Ryan yang juga merupakan anak dari bapak angkat sony selama berada di PELATNAS karena kedua orangtuanya tinggal di Surabaya. Sony pun berhasil mengantongi puluhan miliar rupiah selama menjadi atlet badminton.


Menurut hasil wawancara seorang siswi SMAN 39 Jakarta dengan satpam PELATNAS, Pak Tirta awal Oktober 2008, Sony merupakan atlet putra teramah. Begitu pun dengan Jo Novita sebagai atlet putrid teramah. Keramahannya turut dirasakan oleh masyarakat sekitar PELATNAS. Keseharian Sony tidak luput dari nilai keagamaan.


Setelah berhasil meraih tiga gelar super series di tahun 2008, Sony kembali melanjutkan rangkaian turnamen yang telah dirancang PB PBSI. Ia mewakili Indonesia diajang Denmark Open Super Series 2008 dan France Open Super Series 2008. Akan tetapi, pada dua turnamen itu, Sony tidak mampu membawa gelar berikutnya di tahun ini. Hal itu dikarenakan kondisi kakinya yang tidak memungkinkan akibat cidera yang sering ia alami menurut pelatihnya (2007 s.d. 2008), Hendrawan.


“Dalam setiap pertandingan, saya sudah ditunjuk dan saya harus menang karena saya yakin saya mampu. Untuk itu, saya tidak hanya bermain, tapi juga menang.” Hal itulah yang selalu diungkapkan Sony saat ditanya mengenai motivasi dia salaam bertanding.


Dalam umurnya yang sudah 23 tahun ini, Sony Dwi Kuncoro belum memikirkan untuk meninkah meski ia telah mempunya kekasih hati yang berdomisili di Surabaya. Ia fokus untuk mengejar kariernya sampai ia merasa sudah tidak kuasa lagi dalam mengejar dan menepuk bola berbulu itu. Menurutnya, usia emas seorang atlet adalah dimasa yang sedang ia alami saat ini dan ia tidak mau untuk melewatkan kesempatan untuk menjadi yang terbaik. Menurut hasil peringkat BWF (Badminton World Federation) 30 Oktober 2008, Sony berada pada urutan ke dua dunia setelah Lee Chong Wee yang notabenenya berusia jauh di atas Sony.


Keyakinan penghuni dan pengurus PELATNAS terhadap Sony semakin besar setelah menurunnya performa Taufik Hidayat yang sudah jarang memetik gelar dari setiap kejuaraan yang ia ikuti. Hendrawan yakin, inilah awal dari kesuksesan Sony sebagai pebulu tangkis andalan Indonesia, bahkan dunia.

biografi

Aldika Restu Pramuli


ALhamdulillah Di hari merdeKa, adalah kepanjangan dari nama perempuan yang lahir lahir tepat di saat bangsa besar ini merayakan hari besarnya yang ke 42 tahun, 17 Agustus 1987. Aldika Restu Pramuli besar di sebuah kota kecil tepat di ujung barat Bogor, Jasinga. Ia dibesarkan oleh dua orang pahlawan penuh jasa (guru) yang tak lain adalah orang tua yang disayanginya, Edi Mulyadi dan Eri Herawati.
Perempuan yang kini tengah duduk di bangku kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) program studi bahasa dan sastra Indonesia ini mengenyam pendidikan dasar kampung kecilnya. TK Aisyiyah Bustanul Athfal, SD Negeri 2 Jasinga, SMP Negeri 2 Jasinga, dan SMA Negeri 1 Jasinga.
Putri pertama dari empat bersaudara ini senang menulis sejak kecil. Mulai dari membuat cerpen, puisi, hingga tulisan-tulisan motivator bagi rekan-rekannya. Pekerjaan pertama selama hidupnya adalah, “jasa perangkai kata”. Dari “jasa perangkai kata” itu, ia memeroleh imbalan berupa jajanan, mulai dari mie ayam, bakso, hingga cilok, dari costumernya, yang tak lain adalah sahabat-sahabatnya sendiri. Hingga kini, ia masih gemar menulis puisi, cerpen, naskah drama, naskah film, dan berharap suatu saat tulisannya akan bermanfaat.
Hobi yang dimilikinya, sebenarnya adalah hobi turunan dari sang Ayah, “Angkag Ingkig”, tak pernah mau diam. Mulai dari Pramuka, OSIS, Paskibra, Mading, serta kegiatan lainnya selalu diikutinya. Kecintaan akan berorganisasi itulah, yang kini membuatnya tetap bertahan sebagai pemimpin redaksi ISOLA POS, surat kabar mahasiswa UPI. Karena hidup tanpa beraktifitas adalah hidup yang mati.
Atas segala aktivitasnya itulah, sejak kecil prestasinya berjibun, namun tak perlu diungkap di sini. Cukup ini saja, siswa SMA berprestasi I tk. Kab. Bogor, Juara I baca Puisi siswa SMP tk. Kab. Bogor, Juara 2 Lomba Presenter Bahasa Sunda tk. Mahasiswa se-Bandung, dll.
Kini, seorang Aldika tengah memersiapkan dirinya untuk bisa mewujudkan mimpi kecilnya, menjadi seorang pembaca berita. Mungkinkah? “Tak pernah ada yang tak mungkin,” itulah yang senantiasa tertanam di benak perempuan ini. Karena tak ada yang tak mungkin, maka ketakutan dan diam adalah dua kebodohan yang tak seharusnya dilakukan.

“Langkah pertama ingatlah Allah, langkah kedua ingatlah Ibu dan Bapak, langkah ketiga berkaryalah,” pesan ibuku suatu hari.

jadwal persib

jadwal persib

PERSIB BANDUNG vs PERSELA , Minggu 13 Juli 2008 Skor: 5 - 2
PERSIB BANDUNG vs PERSIJA, Minggu 20 Juli 2008 Skor : 2 - 3
PERSIPURA vs PERSIB BANDUNG, Minggu 27 Juli 2008 Skor : 1 - 0
PERSIWA vs PERSIB BANDUNG, Jumat 1 Agustus 2008 Skor : 3 - 1
PERSIB BANDUNG vs Persik, Selasa 5 Agustus 2008 Skor : 3 - 1
PERSIB BANDUNG vs Persitara, Sabtu 16 Agustus 2008 Skor : 2 - 0
Sriwijaya FC vs PERSIB BANDUNG, Selasa 9 September 2008 Skor : 4 - 2
PSMS vs PERSIB BANDUNG, Sabtu 13 September 2008 Skor : 1 - 1
PERSIB BANDUNG vs PSIS, Selasa 22 September 2008 Skor : 3 - 1
PERSIB BANDUNG vs Pelita Jaya, Sabtu 27 September 2008 Skor : 1 - 0
PKT vs PERSIB BANDUNG, Selasa 6 Oktober 2008 Skor : 1 - 2
Persiba vs PERSIB BANDUNG, Kamis 9 Oktober 2008 Skor : 0 - 0
Deltras vs PERSIB BANDUNG, Rabu 22 Oktober 2008 Skor : 0 - 2
PERSIB BANDUNG vs Persijap, Kamis 30 Oktober 2008 Skor : 0 - 0
PERSIB BANDUNG vs Arema, Minggu 2 November 2008 Skor 2 : 1
PERSIB BANDUNG vs Persita, Sabtu 8 November 2008
PSM vs PERSIB BANDUNG, Sabtu 15 November 2008
------------ -
Petaran Kedua
------------ -

Persita vs PERSIB BANDUNG, Minggu 2 Januari 2009
Persijap vs PERSIB BANDUNG, Senin 5 Januari 2009
PERSIB BANDUNG vs PSM, Sabtu 10 Januari 2009
PERSIB BANDUNG vs Deltras, Jumat 16 Januari 2009
PERSIB BANDUNG vs Persiba, Selasa 3 Februari 2009
PERSIB BANDUNG vs PKT, Minggu 8 Februari 2009
Pelita Jaya vs PERSIB BANDUNG, Sabtu 14 Februari 2009
PSIS vs PERSIB BANDUNG, Senin 23 Februari 2009
PERSIB BANDUNG vs Sriwijaya FC, Senin 2 Maret 2009
PERSIB BANDUNG vs PSMS, Sabtu 21 Maret 2009
Persitara vs PERSIB BANDUNG, Jumat 27 Maret 2009
Arema vs PERSIB BANDUNG, Senin 27 April 2009
Persik vs PERSIB BANDUNG, Sabtu 2 Mei 2009
PERSIB BANDUNG vs Persiwa, Selasa 5 Mei 2009
PERSIB BANDUNG vs Persipura, Senin 11 Mei 2009
Persela vs PERSIB BANDUNG, Senin 18 Mei 2009
Persija vs PERSIB BANDUNG, Minggu 24 Mei 2009

persib nu aing

persib Optimistis Main di Siliwangi


Ketua panitia pelaksana Persib Bandung, Iwan Kartiwan yakin dua laga kandang Maung Bandung dalam menjamu PSIS Semarang dan Pelita Jaya FC, akan dimainkan di Siliwangi.

Keyakinan Iwan ini, bukan tanpa alasan. Mulusnya pelaksanaan laga kandang Maung Bandung menghadapi Persitara Jakarta Utara, 16 Agustus lalu. Sedikit banyak mempengaruhi sikap keras Polda Jabar untuk kembali mengeluarkan izin pertandingan kandang Persib dilaksanakan di Kota Bandung.

\"Keputusan menggelar pertandingan tanpa penonton memang sedikit banyak membuat proses pelaksanaan laga Persib melawan Persitara lebih mulus. Tapi Polda Jabar merasa senang sebab sebelum, sepanjang hingga seusai pertandingan tersebut, keseluruhan tak terjadi pelanggaran yang cukup fatal. Seperti adanya bobotoh yang memaksa masuk ke areal dalam Stadion dan sebagainya,\" kata Iwan.

Seperti diungkapkan Humas Polda Jabar, Kombes Pol Dade Ahmad secara penyelenggaraan laga kandang Maung Bandung menghadapi Persitara Jakarta Utara sudah sesuai harapan pihak Polda.

\"Kami akan lihat dulu kondisinya dan menuggu masukan dari berbagai pihak. Apakah nanti diijinkan dengan penonton atau tetap tanpa penonton,\" ujar Dade.

Kecuali laga kandang menghadapi Arema Malang yang tertunda dan baru dilaksanakan, 2 November nanti di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung. Seluruh sisa laga kandang Persib di putaran I rencananya tetap dilaksanakan di Stadion Siliwangi.

sejarah persib

Kilas Balik


Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetball Bond ( BIVB ) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.

Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung ( PSIB ) dan National Voetball Bond ( NVB ).

Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub- klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana,Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.

Di Bandung pun saat itu pun sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken ( VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan dipinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom.

Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG.

Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya.Klub- klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG ( kini Stadion Persib ), dan Lapangan SPARTA ( kini Stadion Siliwangi ). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.

Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.

Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.

Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta.

Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya.
Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda ( NICA ) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.

Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953- 1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah secretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangunkan Sekretariat Persib di Cilentah.

Awal Persib memiliki gedung yang kini berada di Jalan Gurame, adalah upaya R. Soendoro, seorang overste replubiken yang baru keluar dari LP Kebonwaru pada tahun 1949. Pada waktu itu, melalui kepengurusan yang dipimpinnya, Soendoro menghadap kepada R. Enoch yang kebetulan kawan baiknya. Dari hasil pembicaraan, Walikota mendukung dan memberikan sebidang tanah di Jalan Gurame sekarang ini.

Pada saat itu, karena kondisi keuangan yang memprihatinkan, Persib tidak memiliki dana untuk membangun gedung, Soendoro kembali menemui Walikota dan menyatakan, “ Taneuh puguh deui, tapi rapat ditiungan ku langit biru,” kata Soendoro.
Akhirnya Enoch juga membantu membangun gedung yang kemudian mengalami dua kali renovasi. Kiprah Soendoro sendiri didunia sepak bola diteruskan putranya, antara lain, Soenarto, Soenaryono, Soenarhadi, Risnandar, dan Giantoro serta cucunya Hari Susanto.

Dalam menjalankan roda organisasi beberapa nama yang juga berperan dalam berputarnya roda organisasi Persib adalah Mang Andun dan Mang Andi. Kedua kakak beradik ini adalah orang lapangan Persib. Tugas keduanya, sekarang ini dilanjutkan oleh putra dan menantunya, Endang dan Ayi sejak 90-an. Selain juga staf administrasi Turahman.

Renovasi pertama dilakukan pada kepemimpinan Kol. CPM Adella ( 1953- 1963 ). Kini sekretariat Persib di Jalan Gurame itu sudah cukup representatif, apalagi setelah Ketua Umum H. Wahyu Hamijaya ( 1994- 1998 ) merenovasi gedung tersebut sehingga menjadi kantor yang memadai untuk mewadahi berbagai kegiatan kesekretariatan Persib.

Kemampuan Persib menjaga nilai- nilai dan tradisinya serta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tentu tidak lepas dari figur Ketua Umum bukan hanya figur yang berkemampuan mengelola organisasi dalam artian agar organisasi itu terus hidup, melainkan juga figur yang mampu menggali potensi dan mengakomodasikan kekuatan yang ada, sehingga kiprah Persib dalam kancah sepakbola nasional terus berlangsung lewat berbagai karya Persib.

my idol

Sony Dwi Kuncoro Menang Mudah

Sony Dwi Kuncoro

INILAH.COM, Jakarta - Juara Jepang Terbuka Super Series, Sony Dwi Kuncoro, melanjutkan penampilannya yang mengesankan dengan meraih kemenangan pertama pada turnamen Super Series berikutnya, China Masters 2008.

Dalam pertandingan yang selesai paling terakhir di Changzhou Olympic Sports Center, Rabu (24/9), unggulan kelima itu menang atas pebulutangkis Belanda, Eric Pang 21-12, 21-15.

Setelah tanpa kesulitan berarti memenangi game pertama 21-12, penampilan Sony agak mengendur pada pertengahan game kedua setelah Eric menyamakan kedudukan 10-10 untuk memimpin hingga 14-12.

Namun, Sony bangkit dengan mengumpulkan tujuh poin beruntun untuk kembali memimpin 19-14 sebelum menutup pertandingan dengan kemenangan 21-15 dalam waktu 29 menit.

Selanjutnya, pebulutangkis peringkat keenam dunia itu akan memperebutkan tempat di perempat final dengan pemain Andrew Smith. Pemain Inggris itu menyingkirkan pemain asal Macau, Lam Chi Man 21-9, 21-8.

Dalam dua pertemuan sebelumnya sejak Singapura Terbuka 2006, Sony berbagi masing-masing satu kemenangan dengan pemain Inggris peringkat 18 dunia itu.

Unggulan ketujuh Taufik Hidayat sudah lebih dulu membukukan tempat di 16 besar setelah mengalahkan pemain Malaysia Muhammad Hafiz Hashim 17-21, 21-13, 22-20.

Juara Asian Games itu selanjutnya bertemu pemain tuan rumah China, Chen Yu yang menang mudah 21-7, 21-12 atas Chan Il Chong dari Macau.

Taufik belum pernah kalah dari pemain ranking 16 dunia itu dalam enam pertemuan sebelumnya sejak Sungapura Terbuka 2001.

Mundurnya sejumlah pemain membuat beberapa pebulutangkis maju ke putaran berikutnya dengan kemenangan WO (walkover) di antaranya, Li Yu dari China yang maju ke babak 16 besar setelah mundurnya unggulan pertama Lee Chong Wei, serta pemain Hong Kong Chan Yan Kit maju setelah unggulan keenam Peter Gade dari Denmark batal tampil.

Begitu pula, penarikan diri pahlawan tuan rumah, Lin Dan yang menjadi unggulan kedua, memberi kemenangan tanpa harus bertanding bagi rekan senegaranya Wen Kai.

Seluruh pemain unggulan tunggal putra yang tampil pada hari pertama berhasil lolos ke babak berikutnya.

Selain Sony dan Taufik, unggulan ketiga Bao Chunlai, unggulan keempat Chen Jin, dan unggulan delapan Joachim Persson maju ke babak berikutnya.

Peringkat tiga dunia asal China Bao Chunlai membutuhkan waktu hampir satu jam untuk menundukkan andalan Thailand Boonsak Ponsana 22-20, 13-21, 21-10. Sementara rekan senegaranya Chen Jin, hanya perlu 26 menit untuk menyisihkan pemain China lainnya Chen Long 21-10, 21-12.

Adapun Joachim Persson harus bermain tiga game untuk meraih kemenangan atas pemain China Du Pengyu 21-18, 12-21, 21-14. [*/I4]
Tags : china masters, sony dwi kuncoro

BERITA TERKAIT

* Taufik Hidayat: Koknya Berat
* Taufik Lolos dari Sergapan Hashim
* Sony Mengecewakan Penonton
* Langkah Sony Tertahan
* Sony Pertahankan Harapan